Assalamulaikum, selamat berziarah di Duniaku, Arsitekturku, Budayaku... tiada kata hanya untuk anda dalam karya dan tulisan yang bermakna. Mendukung semua usaha untuk memperbanyak kawan, rekan, apakah itu dalam bidang pendidikan ilmu, profesi, sosial, budaya dan siapapun dia. Menyediakan waktu untuk menulis, mencatat pengalaman, sebagai usaha melengkapi bahan dalam menjalani badai kehidupan. E-Mail. nashar_arsitektur@darulilmi.com
Get your own Chat Box!Go Large!
Klik "Sign In" kalau mau join Chat Room Saya
Copy kode diatas untuk di pasang di Website atau di Weblog anda
Lokasi Bangunan : JL.
Piere Tendean No. 11, RT 40, Kel. Gedang Banjarmasin, Indonesia
Pemilik Asal : Kolonial Belanda
Pemilik Sekarang :
Pemko. Banjarmasin
Tahun Dibangun :
1925
Penyusun/Penulis :
Muhammad Husnun Nashar
Jika kita berada di kawasan Jl. Piere Tendean, Banjarmasin, Kalimantan
Selatan maka disitu kita akan melihat bangunan bergaya kolonial yang masih
berdiri kokoh, kuno dan seakan tidak berpenghuni. Sepintas memang bangunannya
sudah mulai lapuk. Dinding-dinding yang terbuat dari kayu ulin, luarnya sudah
mulai dirambati tanaman. Kaca Jendela yang berada di bawah sudah retak-retak
karena sering mengalami getaran kendaraan motor dan mobil. Atapnya yang dulu
sirap kini sudah diganti dan diperbaiki dengan atap seng.
Dinding di bagian bawah atap bertuliskan “ANNO 1925”
menandakan bahwa bangunan ini dibangunan tahun 1925. Dimana pemilik asal
bangunan ini adalah Kolonial Belanda yang menurut sumber masyarakat yang
tinggal di sekitar sana
memang dulunya difungsikan sebagai Gereja dan kini difungsikan sebagai gudang,
selanjutnya bangunan ini menjadi pemilik Pemko. Banjarmasin.
Salah satu keunikan tersendiri adalah memiliki
fasade simetris dua wajah yang sama yaitu tampak yang menghadap jalan (daratan)
dan tampak yang menghadap sungai Martapura.
Terdapat jendela-jendela kaca berwarna
merah dan biru yang nampak memudar terpasang di setiap sisi tampak bangunan. Selain
itu juga terdapat jamang di pucuk bubungan atap baik depan maupun belakang
dengan kreasi ukiran khas kolonial, sementara hiasan simetris berada di tawing layar (bawah). Pilis di ujung
atap cucuran atap atau banturan palatar dengan motif bunga. Disamping kanan
bangunan terdapat tiang besar dan tinggi yang terbuat dari ulin yang merupakan tangga
putar, sebagai akses untuk ke lantai dua selain juga terdapat tangga di dalam
bangunan.
Saat memasuki ruangan kedalam, terasa akan begitu
berbeda. Ruang di lantai pertama dibagi dua atau disekat dengan dinding kayu.
Ruang sebelah kiri digunakan sebagai gudang sedangkan sebelah kanannya
digunakan sebagai tempat tinggal penunggu rumah dan kantor daripada konsultan
yang pemegang rehab bangunan ini. Begitu nampak berbeda kita melihat ketika
memasuki ruang sebelah kanannya karena telah mengalami perubahan seperti lantai
yang asalnya menggunakan papan ulin kini telah diganti dengan lantai keramik
ukuran 30x30 cm, berwarna putih. Dinding dan plafond juga dicat dengan warna
putih.
Tangga
akses untuk menuju ke lantai 2 (dua) dilapisi dengan karpet berwarna merah. Namun
ketika sudah berada di lantai 2 (dua) tidak banyak ditemukan pemugaran besar
kecuali lantainya papan ulin telah diganti dengan yang baru. Dindingnya terasa
masih kokoh, karena terdapat penopang balok secara menyilang sehingga beban
daripada ketahanan bangunan tetap terjaga. Jendela yang dapat dibuka keluar dan
terdapat teralis besi yang dipasang secara ganjil. Tempat lampu yang berada di
plafond dihiasi ukiran ulin dengan motif bunga.
Lantai 2 (dua) Terdiri dari 3 (tiga) kamar tidur dan
ruang besar yang digunakan sebagai ruang keluarga dan sebagai tempat pertemuan
serta terdapat ruang belakang yang digunakan sebagai tempat penyimpanan barang
atau gudang. Dari ruang gudang ini sedikit mengalami kerusakan, terdapat lubang
flafond yang berlubang sekitar 3 m3 dan
daun jendela yang menghadap sungai juga sudah rusak dimana tidak bisa di
buka tutup lagi. Kaca jendela menghadap jalan terlihat masih bagus namun
berdebu dengan warna merah dan biru.
Begitulah
salah satu hiruk pikuk panorama bangunan tua bersanding dengan bangunan modern yang berada di
sekelilingnya menambah warna kotaBanjarmasin, dimana
bangunannya berada di tepi sungai Martapura.
Inilah beberapa gambar saya ketika saat saya masih bersekolah di SMK dahulu. Sesaat saya tersenyum ketika memandang gambar ini karena merupakan bagian dari pengalaman ataupun kenangan masa lalu yang tidak akan pernah dilupakan. Dari sini saya mulai belajar bagaimana cara membuat sebuah gedung dengan mengaplikasikan tentang pelajaran ilmu Perspektif. Dimana penerapan salah satunya adalah 2 (dua) Titik Hilang. Memberikan objek kesan lebih real dan menarik. Hal ini tentunya menjadi suatu kesenangan, kebanggaan dan kenikmatan bathin pribadi yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata biarpun karya tersebut berada di secarik kertas. Sukses dan semangat selalu untuk kita semua. Terima kasih. (Muhammad Husnun Nashar).
Bangunan
ini berada di kawasan tepian sungai Martapura yang tepatnya di Jln. Piere
Tendean RT 40, Kel. Gedang 70231 Banjarmasin.
Keunikan
dari rumah ini adalah semua material daripada bangunan ini menggunakan kayu
ulin (kayu besi) baik dari sistem struktur, dinding hingga atapnya juga
berbahan ulin.
Nampak
keunikan lain, fasade belakangnya telah menjadi bagian yang begitu penting
(pada masa lalu) dimana orientasi rumahnya juga ke sungai (halaman belakang
rumah adalah sungai) selain jalan yang berada di depan. Jika melihat dari jauh
atau seberangnya di siring dekat Mesjid Sabilal Muhtadin akan menjadi kekhasan
dan ketertarikan tersendiri sebagai bagian dari wajah kotaBanjarmasin
antara bangunan-bangunan tua dengan bangunan modern atau baru.
Bangunan Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia
ini bentuk wujudnya menerapkan pengaplikasian motif Rumah Adat Banjar tipe
Bubungan Tinggi.
Bangunan nampak
masif dan kokoh dengan bukaan yang sangat minim. Pengaplikasian ornamen Banjar
terlihat pada beberapa elemen bangunan seperti pada pintu masuk dan kandang
rasi.
Modifikasi gaya
arsitekturnya yang lebih modern baik dari bentuk fisik maupun penggunaan
materialnya. Namun masih terlihat berupa anjung kiwa (kiri) dan anjung kanan,
seakan tanpa tiada terlihat .
Bangunan ini terdiri
dari konstruksi 2 (dua) lantai, dimana kedua-duanya difungsikan sebagai tempat
penyimpanan koleksi museum yang dipamerkan, disamping area luar bangunan juga
terdapat koleksi museum.
Miniatur/Maket ini adalah Rumah Bubungan Tinggi merupakan salah satu Rumah Tradisional Banjar yang dibuat oleh Mahasiswa Arsitektur Unlam Banjarmasin. Orientasi berada di Desa Telok Selong Martapura Kalimantan Selatan. Arsip tahun @2007.