Assalamulaikum, selamat berziarah di Duniaku, Arsitekturku, Budayaku... tiada kata hanya untuk anda dalam karya dan tulisan yang bermakna. Mendukung semua usaha untuk memperbanyak kawan, rekan, apakah itu dalam bidang pendidikan ilmu, profesi, sosial, budaya dan siapapun dia. Menyediakan waktu untuk menulis, mencatat pengalaman, sebagai usaha melengkapi bahan dalam menjalani badai kehidupan. E-Mail. nashar_arsitektur@darulilmi.com BannerFans.com      BannerFans.com BannerFans.com BannerFans.com
Get your own Chat Box! Go Large!
Klik "Sign In" kalau mau join Chat Room Saya

BannerFans.com
Copy kode diatas untuk di pasang di Website atau di Weblog anda

Sabtu, 01 November 2008

Sekitar Peribahasa Dalam Sastra Daerah Banjar



Umumnya setiap suku bangsa memiliki peribahasa rakyatnya. Demikian pula halnya dengan masyarakat Banjar.

Dalam sastra daerah Banjar terdapat peribahasa yang dalam istilah Banjar disebut Paribahasa. Peribahasa ini dalam tata kehidupan orang Banjar ternyata cukup penting kedudukannya. Tradisi kehidupan masyarakat lama yang selalu tidak ingin berterus terang secara blak-blakan seperti sekarang ini. Hal itu terbiasa dengan lahirnya peribahasa sebagai kata-kata berkias bentuk berselubung, tapi padat dengan arti yang dalam.

Peribahasa ialah ucapan-ucapan yang berisi salah satu pengalaman hidup umum atau pengajaran (nasehat) yang mempunyai saripati, berbunyi indah, bagus dan disusun dengan baik serta hidup didalam mulut rakyat.

Dalam kelompok sastra Indonesia Lama, peribahasa tersebut memiliki keluarga yang termasuk di dalamnya segala mecam pepatah, petitih, perumpamaan, tamsil, amsal, ibarat, kiasan dan pameo.

Namun demikian bentuk-bentuk yang berjenis-jenis tersebut ternyata dalam peribahasa Sastra Daerah Banjar terdapat pula, meskipun tidak terlampau banyak. Untuk dapat melihat lebih jauh bagaimana peribahasa daerah Banjar itu, kiranya dapatlah diberikan contoh sebagai berikut :

1. Pepatah

Dalam sastra Daerah Banjar orang mengenal dengan sebutan Papatah atau Papatah-patitih. Pepatah adalah kiasan yang tepat susunan kalimatnya dan suatu pernyataan yang sebenarnya, sehingga tidak dapat disangkal lagi. Pepatah gunanya untuk mematahkan perkataanorang lain yang menjadi lawan berbicara, sehingga lawan berbicara, sehingga lawan berbicara tak mungkin berdalih lagi.

Pepatah dalam Sastra Daerah Banjar itu misalnya :”Guyang tungkay kana dahi”, artinya : Berbuat sesuatu yang menyebabkan kena diri sendiri atau mencela orang lain yang ternyata mengenai diri sendiri atau anggota keluarga sendiri.

Pepatah ini sama artinya dengan pepatah : ”Menepuk banyu di dulang terpecik sendiri”. Awak randah sangkutan tinggi, artinya menginginkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaan atau kemampuan diri sendiri.”Jauh piring lawan mangkuk” artinya sesuatu keinginan yang masih jauh untuk bisa tercapai. ”Buah habang disangka manis” artinya : persangkaan baik terhadap sesuatu tetapi ternyata tidak sebaik apa yang diduga semula.

2.Perumpamaan

Perumpamaan adalah sebuah kalimat yang memperupamakan atau memisahkan sesuatu yang berhubungan dengan keadaan, keindahan atau sebaliknya, yang umumnya berkenaan dengan tata kehidupan seseorang.

Dalam perumpamaan sastra Indonesia mempunyai ciri-ciri permulaan kalimat dengan kata-kata seperti, laksana bagai, bagaikan atau sebagai. Dalam perumpamaan sastra daerah Banjar kadang-kadang dipergunakan kata ”kaya” atau ”macam”.

Sama halnya dengan perumpamaan ini mencontohkan kepada tiga macam benda, yaitu :

- Mengumpamakan kepada tumbuh-tumbuhan.

- Mengumpamakan kepada binatang.

- Mengumpamakan kepada benda-benda lainya.

Yang memperutamakan kepada tumbuh-tumbuhan misalnya : ”Berandah pada kancur”, artinya merendahkan diri sama sekali, sedangkan tumbuh-tumbuhan kancur sudah termasuk tanaman yang sangat rendah. ”Kaya tiwadak dihantak”, artinya mencontohkan kepada seseorang yang agak gemuk, tapi rendah tubuhnya.

Yang mengumpamakan kepada binatang misalnya : ”Kaya warik tajun ka kacang”, artinya sikap orang atau orang yang tidak sabar mendapatkan sesuatu atau makan sesuatu makanan. ”Hundang bapadah ratik”, artinya sikap orang yang merendahkan diri atau tidak ingin menonjolkan diri, padahal dia memiliki kelebihan. ”Kaya cacing panggal”, artinya sikap orang yang sangat gelisah atau tidak sabar dalam sesuatu urusan.

Yang mengumpamakan kepada benda-benda lainnya, misalnya : ”asa bagantung di rambut sahalai”, diumpamakan kepada keadaan yang sangat membahayakan atau mengkhawatirkan, sehingga menimbulkan suasana harap-harap cemas. ”Asa ludah hantu”, maksudnya mengumpamakan makanan yang tidak enak rasanya. ”Kaya mambuangi kalimpanan”, artinya diumpamakan kepada pengobatan penyakit yang sangat cepat sembuhnya atau sesuatu tindakan yang sangat mudah dan cepat mengatasinya.

3.Tamsil dan Amsal

Tamsil dan amsal adalah kiasan yang bersajak atau berirama yang kadng-kadang merupakan pantun atau gurindam. Dalam sastra Banjar bentuk tamsil atau amsal ini mempergunakan ulangn kata-kata, misalnya seperti : ”Hirang-hirang gula”, ulangan kata dalam tamsil ini ialah hirang menjadi hirang-hirang. Hirang-hirang gula artinya mengumpamakan seseorang yang berkulit hitam tetapi berwajah manis. ”Ganal-ganal gadang”, artinya mengumpamakan kepada seseorang yang hanya bertubuh besar tetapi mempunyai kemampuan atau kecakapan yang kurang. ”Karas-karas karak kana banyu lamah jua”, artinya pendirian yang keras apabila dirundingkan atau dibujuk akan lembut juga. ”Halus-halus awak, ganal-ganal biawak”, artinya jika ikan kecil dapat dimakan (ada manfaat), tapi juka biawak tidak mungkin dimakan.

4. Ibarat

Ibarat adalah kiasan yang menyatakan sesuatu dengan jelas dan terang yang kadang-kaang mengadakan perbandingan dengan alam. Dalam sastra daerah Banjar, ibarat itu antara lain : ”Kada kurang surung kada kurang handak”, artinya sesuatu urusan atau pembicaraan itu telah dikemukakan secara jelas. ”Ibarat binggul melawan ringgit”, artinya orang bawahan atau orang miskin melawan orang besar atau orang kaya. ”Maharap kijang di alas”, artinya mengharapkan sesuatu yang masih jauh akan tercapai. ”Sudah banyak makan uyah”, artinya telah banya memiliki pengalaman hidup baik yang pahit maupun yang manis karena usia yang sudah tua.

Bahwa peribahasa memegang peranan yang cukup penting dalam tata kehidupan orang zaman dulu. Peribahasa berfungsi sebagai bumbu dalam pembicaraan, tetapi juga mengandung aspek edukatif secara tidak langsung.

Peribahasa merupakan ucapan pikiran serta perasaan manusia yang dilahirkan dalam bentuk susunan yang tepat dengan secara tidak langsung tetapi berkias dan beribarat.

Dalam Bahasa Indonesia bahwa peribahasa itu mempunyai jenis-jenis seperti pepatah, perumpamaan, tamsil, ibarat dan kiasan, namun semua itu pada dasarnya sama saja.

Peribahasa dalam Sastra Banjar pada saat ini memang jarang dipergunakan, namun eksistensinya tetap mengukir dan memberi warna dalam sastra daerah ini, sekaligus memberi arti dalam budaya masyarakat Banjar.



0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan bagi anda yang ingin berkomentar...terima kasih..

 

Home | Blogging Tips | Blogspot HTML | Make Money | Payment | PTC Review

Duniaku, Arsitekturku, Budayaku... © Template Design by Herro | Publisher : Templatemu