Rumah Kuno di Tepi Sungai Martapura, Banjarmasin
Lokasi Bangunan : JL.
Piere Tendean No. 11, RT 40, Kel. Gedang Banjarmasin, Indonesia
Pemilik Asal : Kolonial Belanda
Pemilik Sekarang :
Pemko. Banjarmasin
Tahun Dibangun :
1925
Penyusun/Penulis :
Muhammad Husnun Nashar
Jika kita berada di kawasan Jl. Piere Tendean, Banjarmasin , Kalimantan
Selatan maka disitu kita akan melihat bangunan bergaya kolonial yang masih
berdiri kokoh, kuno dan seakan tidak berpenghuni. Sepintas memang bangunannya
sudah mulai lapuk. Dinding-dinding yang terbuat dari kayu ulin, luarnya sudah
mulai dirambati tanaman. Kaca Jendela yang berada di bawah sudah retak-retak
karena sering mengalami getaran kendaraan motor dan mobil. Atapnya yang dulu
sirap kini sudah diganti dan diperbaiki dengan atap seng.
Dinding di bagian bawah atap bertuliskan “ANNO 1925”
menandakan bahwa bangunan ini dibangunan tahun 1925. Dimana pemilik asal
bangunan ini adalah Kolonial Belanda yang menurut sumber masyarakat yang
tinggal di sekitar sana
memang dulunya difungsikan sebagai Gereja dan kini difungsikan sebagai gudang,
selanjutnya bangunan ini menjadi pemilik Pemko. Banjarmasin .
Salah satu keunikan tersendiri adalah memiliki
fasade simetris dua wajah yang sama yaitu tampak yang menghadap jalan (daratan)
dan tampak yang menghadap sungai Martapura.
Terdapat jendela-jendela kaca berwarna
merah dan biru yang nampak memudar terpasang di setiap sisi tampak bangunan. Selain
itu juga terdapat jamang di pucuk bubungan atap baik depan maupun belakang
dengan kreasi ukiran khas kolonial, sementara hiasan simetris berada di tawing layar (bawah). Pilis di ujung
atap cucuran atap atau banturan palatar dengan motif bunga. Disamping kanan
bangunan terdapat tiang besar dan tinggi yang terbuat dari ulin yang merupakan tangga
putar, sebagai akses untuk ke lantai dua selain juga terdapat tangga di dalam
bangunan.
Saat memasuki ruangan kedalam, terasa akan begitu
berbeda. Ruang di lantai pertama dibagi dua atau disekat dengan dinding kayu.
Ruang sebelah kiri digunakan sebagai gudang sedangkan sebelah kanannya
digunakan sebagai tempat tinggal penunggu rumah dan kantor daripada konsultan
yang pemegang rehab bangunan ini. Begitu nampak berbeda kita melihat ketika
memasuki ruang sebelah kanannya karena telah mengalami perubahan seperti lantai
yang asalnya menggunakan papan ulin kini telah diganti dengan lantai keramik
ukuran 30x30 cm, berwarna putih. Dinding dan plafond juga dicat dengan warna
putih.
Tangga
akses untuk menuju ke lantai 2 (dua) dilapisi dengan karpet berwarna merah. Namun
ketika sudah berada di lantai 2 (dua) tidak banyak ditemukan pemugaran besar
kecuali lantainya papan ulin telah diganti dengan yang baru. Dindingnya terasa
masih kokoh, karena terdapat penopang balok secara menyilang sehingga beban
daripada ketahanan bangunan tetap terjaga. Jendela yang dapat dibuka keluar dan
terdapat teralis besi yang dipasang secara ganjil. Tempat lampu yang berada di
plafond dihiasi ukiran ulin dengan motif bunga.
Lantai 2 (dua) Terdiri dari 3 (tiga) kamar tidur dan
ruang besar yang digunakan sebagai ruang keluarga dan sebagai tempat pertemuan
serta terdapat ruang belakang yang digunakan sebagai tempat penyimpanan barang
atau gudang. Dari ruang gudang ini sedikit mengalami kerusakan, terdapat lubang
flafond yang berlubang sekitar 3 m3 dan
daun jendela yang menghadap sungai juga sudah rusak dimana tidak bisa di
buka tutup lagi. Kaca jendela menghadap jalan terlihat masih bagus namun
berdebu dengan warna merah dan biru.
Begitulah
salah satu hiruk pikuk panorama bangunan tua bersanding dengan bangunan modern yang berada di
sekelilingnya menambah warna kota Banjarmasin , dimana
bangunannya berada di tepi sungai Martapura.

Aplikasi 3D









2 komentar:
Jadi ingat waktu kecil dulu sering ngelewatin bangunan ini...jadi kangen Banjar..
mantab blog nya mas bro
Poskan Komentar
Silahkan bagi anda yang ingin berkomentar...terima kasih..