Assalamulaikum, selamat berziarah di Duniaku, Arsitekturku, Budayaku... tiada kata hanya untuk anda dalam karya dan tulisan yang bermakna. Mendukung semua usaha untuk memperbanyak kawan, rekan, apakah itu dalam bidang pendidikan ilmu, profesi, sosial, budaya dan siapapun dia. Menyediakan waktu untuk menulis, mencatat pengalaman, sebagai usaha melengkapi bahan dalam menjalani badai kehidupan. E-Mail. nashar_arsitektur@darulilmi.com BannerFans.com      BannerFans.com BannerFans.com BannerFans.com
Get your own Chat Box! Go Large!
Klik "Sign In" kalau mau join Chat Room Saya

BannerFans.com
Copy kode diatas untuk di pasang di Website atau di Weblog anda

Minggu, 23 Mei 2010

Rumah Kuno di Tepi Sungai Martapura, Banjarmasin




Lokasi Bangunan  : JL. Piere Tendean No. 11, RT 40, Kel. Gedang  Banjarmasin, Indonesia
Pemilik Asal           : Kolonial Belanda
Pemilik Sekarang  : Pemko. Banjarmasin
Tahun Dibangun    : 1925
Penyusun/Penulis  : Muhammad Husnun Nashar

Jika kita berada di kawasan Jl. Piere Tendean, Banjarmasin, Kalimantan Selatan maka disitu kita akan melihat bangunan bergaya kolonial yang masih berdiri kokoh, kuno dan seakan tidak berpenghuni. Sepintas memang bangunannya sudah mulai lapuk. Dinding-dinding yang terbuat dari kayu ulin, luarnya sudah mulai dirambati tanaman. Kaca Jendela yang berada di bawah sudah retak-retak karena sering mengalami getaran kendaraan motor dan mobil. Atapnya yang dulu sirap kini sudah diganti dan diperbaiki dengan atap seng.
Dinding di bagian bawah atap bertuliskan “ANNO 1925” menandakan bahwa bangunan ini dibangunan tahun 1925. Dimana pemilik asal bangunan ini adalah Kolonial Belanda yang menurut sumber masyarakat yang tinggal di sekitar sana memang dulunya difungsikan sebagai Gereja dan kini difungsikan sebagai gudang, selanjutnya bangunan ini menjadi pemilik Pemko. Banjarmasin.

Salah satu keunikan tersendiri adalah memiliki fasade simetris dua wajah yang sama yaitu tampak yang menghadap jalan (daratan) dan tampak yang menghadap sungai Martapura. Terdapat jendela-jendela kaca  berwarna merah dan biru yang nampak memudar terpasang di setiap sisi tampak bangunan. Selain itu juga terdapat jamang di pucuk bubungan atap baik depan maupun belakang dengan kreasi ukiran khas kolonial, sementara hiasan simetris  berada di tawing layar (bawah). Pilis di ujung atap cucuran atap atau banturan palatar dengan motif bunga. Disamping kanan bangunan terdapat tiang besar dan tinggi yang terbuat dari ulin yang merupakan tangga putar, sebagai akses untuk ke lantai dua selain juga terdapat tangga di dalam bangunan.

Saat memasuki ruangan kedalam, terasa akan begitu berbeda. Ruang di lantai pertama dibagi dua atau disekat dengan dinding kayu. Ruang sebelah kiri digunakan sebagai gudang sedangkan sebelah kanannya digunakan sebagai tempat tinggal penunggu rumah dan kantor daripada konsultan yang pemegang rehab bangunan ini. Begitu nampak berbeda kita melihat ketika memasuki ruang sebelah kanannya karena telah mengalami perubahan seperti lantai yang asalnya menggunakan papan ulin kini telah diganti dengan lantai keramik ukuran 30x30 cm, berwarna putih. Dinding dan plafond juga dicat dengan warna putih.
Tangga akses untuk menuju ke lantai 2 (dua) dilapisi dengan karpet berwarna merah. Namun ketika sudah berada di lantai 2 (dua) tidak banyak ditemukan pemugaran besar kecuali lantainya papan ulin telah diganti dengan yang baru. Dindingnya terasa masih kokoh, karena terdapat penopang balok secara menyilang sehingga beban daripada ketahanan bangunan tetap terjaga. Jendela yang dapat dibuka keluar dan terdapat teralis besi yang dipasang secara ganjil. Tempat lampu yang berada di plafond dihiasi ukiran ulin dengan motif bunga. 
Lantai 2 (dua) Terdiri dari 3 (tiga) kamar tidur dan ruang besar yang digunakan sebagai ruang keluarga dan sebagai tempat pertemuan serta terdapat ruang belakang yang digunakan sebagai tempat penyimpanan barang atau gudang. Dari ruang gudang ini  sedikit mengalami kerusakan, terdapat lubang flafond yang berlubang sekitar 3 m3 dan  daun jendela yang menghadap sungai juga sudah rusak dimana tidak bisa di buka tutup lagi. Kaca jendela menghadap jalan terlihat masih bagus namun berdebu dengan warna merah dan biru.
Begitulah salah satu hiruk pikuk panorama bangunan tua bersanding  dengan bangunan modern yang berada di sekelilingnya menambah warna kota Banjarmasin, dimana bangunannya berada di tepi sungai Martapura.



2 komentar:

Jadi ingat waktu kecil dulu sering ngelewatin bangunan ini...jadi kangen Banjar..

mantab blog nya mas bro

Poskan Komentar

Silahkan bagi anda yang ingin berkomentar...terima kasih..

 

Home | Blogging Tips | Blogspot HTML | Make Money | Payment | PTC Review

Duniaku, Arsitekturku, Budayaku... © Template Design by Herro | Publisher : Templatemu